Welcome to Indah's Blog ;)

25 September 2011

cerpen :)


Sipit Berkacamata
Karya Indah Febriyanti Amir
K


riiiiiiing..kriiiing…
itulah suara yang jelas terdengar ditelingaku. Sungguh berisik. Celoteh benda itu sangat nyaring. Jam weker warna biru berbentuk apel kesayanganku yang telah mengganggu telingaku pagi ini. Aku tak lekas beranjak, melainkan lebih pulas dan melanjutkan bunga tidurku. Karena tak kuat lagi mendengar celotehnya, yang setiap menjelang tidur ku atur untuk membangunkanku, ku raih benda berisik itu yang berada di dekat telingaku. Lalu kumatikan. Aku menguap lebar.“Ya ampun, jam, berisik banget sih kamu. Aku itu masih ngantuk lho!” ujarku kesal.

Perlahan ku coba membuka mata, dan…seketika Aku tekejut! Jarum jam itu menunjukkan pukul 6.20! Yaa Tuhan! Mataku terbuka lebar. Ku lempar benda kecil itu, lalu ku buang selimut yang menutupi setengah tubuhku. Aku menghambur, berlari kencang menuju kamar mandi, hmm..seperti dikejar hantu. Bunda menggelengkan kepala melihat tingkahku itu. Tidurku lelap sekali, seperti minum beberapa butir obat tidur. Ku rasa Aku benar-benar kelelahan karena mengerjakan tugas hingga larut malam tadi.
“Bun, Indah langsung berangkat aja deh!” teriakku sambil menyambar tas.
‘’Nggak makan dulu?” Tanya Bundaku yang sedang di dapur.
Aku hanya menggeleng dan melangkah lebar keluar rumah.
***
Satu langkah terlewat dari pintu gerbang sekolah putih biruku itu, bel berbunyi. Napasku terengah-engah setelah berlari-lari kencang. Bak pelari yang berjuang dengan semangat ‘45 untuk mencapai finish. Aku menarik napas panjang.
Dari kejauhan mataku terfokus pada seseorang. Dengan rambut pirang dibawah bahu, cara jalan yang khas dan memakai tas bertulis ‘ProShop’ yaaa, memang tidak asing lagi. Itu pasti Desvania Maharani alias Vani, salah satu dari 3 sahabatku. Teman kelasku bahkan sebangkuku. Hehehe.
“Vani!” teriakku sambil membungkuk setengah badan dan mengatur napas.
Vani berhenti dan menoleh dengan matanya yang menyipit.
“Aih, Indah ngapain lo disitu? Hahaha ini udah masuk kali, lihat tuh sekolah udah sepi, orang-orang udah masuk kelas lo malah nyantai-nyantai disitu.” Teriaknya balik dengan tampang polos dan meledek.
Aku rasa penyakit lola, alias ‘loading lama’ Vani sudah mendekati stadium akhir. Aku terlihat santai? Bisa jadi, minus matanya bertambah. Ku hampiri si sipit dan berkacamata itu.
“Sungguh prihatinnya kalau tiap hari harus naik dan turun tangga. Ya inilah nasib jika kelas berada di lantai atas. Yang ada betisku makin membesar.” Curhatku dalam hati.
Lanjutkan perjuangan untuk menuju kelas. Sedikit ragu-ragu Aku mau menoleh dan mengintip keadaan kelasku. Perlahan-lahan ku tolehkan kepalaku untuk mengintip dari samping pintu kelasku. Setidaknya memastikan ada guru atau tidak. Syukur. Ternyata guru belum ada yang masuk. Tanpa pikir panjang kami berlari ke meja deretan ketiga baris ketiga dari depan. Kuletakkan tasku. Lalu duduk dan memastikan jantungku yang detaknya benar-benar tak beraturan ini.
***
Bel berbunyi tiga kali. Seisi kelas bersorak-sorai. Tak luput Aku dan Vani. Jam itulah yang kami nanti-nanti. Menghibur perut yang sejak tadi merintih-rintih bernyanyi keroncong.
“Gue laper banget lho Van, ngantin yok?” ajakku.
“Iya nih, gue apalagi. Asal lo tau waktu guru ngejelasin tadi, tingkat konsentrasi gue nggak sepenuhnya ke ibu itu, tapi ke nasib perut gue ini. Lo denger nggak suara seksi perut gue yang nyanyi keroncong tadi?” ucap Vani dengan panjang lebar tanpa jeda.
“Denger nggak yaa? Yaudah geh, nggak usah curhat gitu kali. Udah kaya kereta api yang remnya blong gitu. Atur napas atuh eneng!” Ledekku mengayunkan telapak tanganku ke atas.
“Huu, sialan. Lo mah ngeledek gue mulu.” sahut Vani cemberut.
Hahaha. Aku tertawa karena berhasil membuatnya kesal.
“Udah-udah lagi lah, ayok geh. Keburu habis tuh isi kantin kalo denger curhatan lo.” Potongku, sebelum Vani sempat melanjutkan curhatan seputar perutnya yang nggak penting itu.
***
“Indah…Vani…tunggu!” teriakan cempreng dari arah belakang. Langkahku terhenti, Aku menoleh. Ternyata Meyi dan Atine yang berteriak nama kami tadi. Cempreng sekali kedengarannya. Mereka berjalan ke arah kami.
Meyi dan Atine juga adalah 2 sahabatku yang belum sempat Aku sebutkan. Kami bersahabat sejak kelas 1 SMP. Rumah kami juga letaknya berdekatan. Itu yang membuat kami semakin dekat. Selain itu, kami juga sempat satu kelas.
“Wih, mau ke kantin ya? Tega mah sekarang, lupa yaaa..nggak ngajak-ngajak lagi.”    Sindir Meyi.
“Iya, kelas atas lupa sama kelas bawah nih.” Lanjut Atine mendukung Meyi.
Maklum kelas kami memang berbeda. Kelasku di lantai atas, seedangkan Meyi dan Atine di lantai bawah.
“Hehehe. Maaf Mey, Tine, kita juga buru-buru. Laper banget geh.” Jelasku.
***
Bel pulang berbunyi nyaring. Semua murid bergembira. Menenteng tas mereka di bahu lalu berlari ceria ke luar kelas. Seperti biasa Aku tentu pulang bersama sahabat-sahabat terbawelku.
Ku rasa waktu memang beputar cepat sekali. Awan terlihat kuning kemerahan. Aku termenung dengan tangan memapah dagu di atas bantal. “Nggak nyangka ya waktu cepet banget? Kayanya kemarin itu adalah hari pertama MOS putih biru gue deh, tapi nggak kerasa tinggal hitungan minggu gue bakal terlepas dari julukan anak SMP.” Gumam kecilku yang hentak  menghentikan lamunanku. Itu pun kalau Aku lulus Ujian Nasional. Tanggal 29 Mei mendatang Aku akan mengahadapi Ujian Nasional. Empat hari itu, dari Senin, Selasa, Rabu, sampai Kamis yang akan menentukan kelayakkanku mendapat gelar menjadi ‘Indah Febriyanti Amir Alumni siswa SMP bla bla bla’. Tuhan, kali ini Aku harus benar-benar serius. Besar tekadku untuk membahagiakan hati orang tuaku. Menjelang UN itu, Aku benar-benar deg-degan. Kata “Lulus” selalu ku tanam dibenakku. Andaikan Aku tak lulus, tubuhku ini tentu bak  digoyah gempa berkekuatan 8,9 skala richter. Berlebihan sih..
Hari demi hari berlalu. Ujian Nasional pun sudah berhasil ku lewati dengan penuh keyakinan. Menanti bulan Mei mendatang.
***
Hari ini pengumuman kelulusan. Detak jantungku dag dig dug serrrr. Mirip lagunya Dewa 19 yang liriknya ‘detaknya lebih cepat seperti genderang mau perang’. Hehehe. Sejak pagi Aku sudah berada di sekolah untuk menerima sebuah amplop yang akan menentukan nasibku ke depan. Di halaman yang cukup luas dengan pepohonan hijau besar dan tinggi itu aku berdiri. Semilir angin menghapus keringatku. Aku dan kawanku tidak bersabar lagi ingin membuka amlop yang sejak tadi belum dibagikan oleh guruku.
“Ih, mana sih? Kok amplopnya nggak dibagi-bagiin juga. Gue udah nggak sabar nih. Bener-bener ngetes jantung gue nih guru-guru.” Keluhku ketus.
“Iya nih, dari pagi sampe siang kaya gini coba kita nungguinnya, nggak juga dibagi-bagi itu amplop. Buat gue semakin takut aja.” Dukung Vani kesal dengan tangan meremas-remas tangannya.
“Temen-temen gue di sekolah lain aja udah pada tau mereka semua lulus, sekolah kita aja nih yang telat. Mau sampe magrib kali ya kita disini?” Gumam Meyi kesal sembari menunjukkan sms yang ada di layar kotak masuk Hp Nokia-nya.
Pesawat genggamku tak lepas dari tanganku. Yah sesuai namanya, jadi selalu kugenggam. Hehe. Ya, dengan alat itu, kabar kelulusanku akan segera sampai ke ayah dan bunda.
Semakin tegang dan lebih tegang lagi dari sebelumnya. Keringat dingin di sekitar telapak tanganku. Guru mulai membagikan satu persatu amplop ke masing-masing nama yang tetera di amplop itu.
Amplop putih dan panjang itu sekarang ada digenggamanku. Agak gemetar Aku mau membukanya. ‘Bismillah….’ memantapkan hati. Ku buka dan ku baca isi amplop itu. Hingga akhirnya bola mataku terhenti pada tulisan bercetak tebal ‘LULUS’. Ya Tuhan… mataku berkaca-kaca. Entah apa yang kurasakan saat ini. Semua bercampur. Histeris sekali. Dengan penuh rasa suka cita dan tak percaya, segera ku tekan panggilan dengan kontak tertera ‘Bunda’ di Hp-ku untuk membagi kabar gembira ini. Terjawab sudah semua rasa takutku. Usahaku tak sia-sia.
Halaman yang cukup luas nan rindang itu kini ramai seperti pasar, dipadati teriakan histeria dan tangisan bahagia dari seluruh siswa yang dinyatakan lulus. Guru-guruku tersenyum lebar melihat kami.
Perlahan Aku berjalan di antara kerumunan teman-temanku. Sesak sekali, hingga beberapa temanku tertabrak olehku. Bola mataku bersigap. Berkali-kali ku tolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Tidak juga tampak. Aku sedang mencari sahabat-sahabatku yang terpisah saat berbaris tadi. Pandanganku terhenti tanpa mengerdip mata sejenak untuk memastikan penglihatanku. Satu persatu kutemukan mereka.
“Meyi, Vani, Atine!” teriakku dari beberapa desakan orang. Aku terjepit diantara kerumunan itu.
Aku terus melambai-lambaikan tangan. Akhirnya mereka bisa melihatku. Ternyata mereka berada di bawah pohon rindang tadi.
“Indah lo juga lulus kan? Gue bener-bener seneng Ndah, gue ‘lulus’ Indah, gue lulus.” histeria Vani sambil  melambai-lambaikan amplopnya.
“Iya Van, nggak nyangka banget ya kita bisa lulus semua. Setidaknya pengorbanan kita selama tiga tahun kemarin nggak sia-sia.” Ujarku dengan senyum tipis.
Ku peluk sahabat-sahabatku itu. Sesaat Aku melompat-lompat kegirangan. Ini benar-benar anugerah dari Tuhan.
***
Sekarang aku sudah menjadi alumni siswa SMP bla bla. Hihihi. Kebahagiaanku akan semakin lengkap lagi jika Aku dan mereka bisa bersama sama menuntut ilmu lebih tinggi di sekolah abu-abu negeri. Tentunya yang favorit. Ini lah mpian besarku.
Libur menuju tes masuk SMA…
Libur dan libur. “Udah berapa hari ya gue di rumah terus?” tanyaku sendiri. Suram rasanya. Aku rindu dengan masa-masa kemarin, biasanya pagi-pagi Aku berangkat sekolah, menuntut ilmu, dan pastinya penuh tawa dengan teman-teman. Sekarang? Hmm. Hari ini Aku memutuskan mengajak Meyi dan Atine untuk bermain ke rumah Vani. Belakangan ini, kami hanya berkomunikasi lewat sms. Hahaha.
Tiba di kamar Vani.
Seperti biasa, setibanya di kamar berbentuk persegi lengkap dengan televisi, kipas angin, novel dan komik itu, kami segera mengacak-acaknya.
“Van, ini novel baru ya?” tanyaku sembari menunjukkan novel yang ku genggam.
“Nggak ah Ndah, udah lama kali.” Seru Vani.
“Oh, gue boleh baca ini kan? Ya kan? Pasti boleh kan?” rayuku dengan mimik melas.
“Kasih nggak ya? Hmmm, gimana ya? Nggak tega juga sih gue ngeliat muka lo melas gitu. Yaudah sih Indah, baca-baca aja, biasanya juga lo asal ambil, tumben hari ini lo sok manis.” Jawabnya dengan tampang meledek. Kurasa dia  dibalas dendam karena sering ku ledek.
Ku ambil novel itu. Yup, judulnya ‘Summer Breeze’. Sembari kubaringkan tubuhku ke ranjang. Kulihat Meyi dan Atine juga sedang asyik membaca komik. Hanya saja mereka sambil mengunyah makanan yang mungkin tak lama lagi makanan itu habis oleh mereka.
Aku sedang asyik membaca novel itu. Tiba-tiba Vani menghentikannya. Nggak asyik nih…
 “Hmmm, maaf kalo ganggu, sebenernya ada yang mau gue omongin ke kalian. Gue  maklumin kalau kalian kaget. Karena gue juga kaget.”
Aku menatap mata sipit itu dengan penuh rasa penasaran.
“Apaan? Sok serius deh, biasanya juga lo bercanda. Pasti mau ngerjain gue lagi kan? Nggak mempan Van. Hahaha.” Jawabku yang seolah tak menyadari keseriusannya.
Suasana menjadi pilu. Tidak ada lagi canda dan tawa seperti tadi.
“Kali ini gue serius. Gue…” terbata-bata.
“Gue mau pindah rumah hiks hiks…” air mata Vani mulai pecah.
“Pasti bercanda kan? Nggak usah becanda ah. Ngga lucu tau! Akting lo nggak kena!’’ samber Meyi memastikan kalau itu memang leluconnya saja.
Semua mulai mengerumuni Vani.
“Ya awalnya juga gue nganggep mami gue itu bercanda, dan ternyata nggak. Bokap gue udah beli tiket pesawat buat gue pergi hari Minggu besok.” Sahut Vani lirih.
“Pindah kemana Van? Ini mendadak banget lho. Gue nggak setuju! Gue nggak mau elo pindah! Ngomong geh sama papi lo! Mimpi kita belum selesai. Kita mau satu SMA dan masuk SMA favorit Van! Itu belum terwujud!”
“Iya Indah, gue selalu inget malah. Gue udah coba ngomong sama mami buat ngerayu papi untuk nggak pindah. Tapi semuanya gagal. Papi gue dipindahin tugas ke Padang.”
Air mata semakin deras.
“Apa? Padang?” tanyaku mulai terlemas.
***
Malam ini Aku terus mengingat-ingat ucapan Vani tadi. Aku berusaha memastikan kalau ini cuma mimpi dan ini hanya lelucon Vani saja. “Vani mau pindah? Ah, nggak, nggak mungkin. Dia nggak mungkin pindah. Ini cuma mimpi. Ayo Indah lo harus ‘Bangun’!” gumam kecilku pada guling yang kudekap dan menghibur pikiran kacauku. Saat ini Aku merasa takut kehilangan Vani, sahabatku. Kehilangan hari-hari manis yang selama ini kami lewati bersama.
Ku pukul-pukul pipiku dan ku cubit-cubit tanganku. Aw! sakit. Tandanya Aku memang nggak lagi bermimpi. Terputar rekaman memori SMP kami kala itu di pikiranku. Mulai terpikir di otakku untuk membuat rencana dua hari terindah menjelang keberangkatan Vani. Yaaah, malam ini telah tersusun masak. Meyi dan Atine menyetujuinya.
***
Hari ini adalah hari jalan kami untuk bersenang-senang. Melupakan sejenak kisah pilu hari kemarin.
“Oke, hari ini kita puasin ya. Jangan ada yang sedih-sedih apalagi sampe nangis!” pintaku.
Tujuan jalan hari ini adalah karaokean, makan siang bareng dan foto-foto.
Telah usai makan siang. Selama di ruang karaokean ini kami luapkan semua emosi dengan menyanyikan lagu-lagu favorit kami. Ini membuat ku teringat memori yang terekam di otakku. Sejenak kami memang tertawa lepas, menceritakan hal-hal lucu tentang Vani. Mikropon dikuasai si sipit dan putih itu. Ya, Vani si anak Jepang ‘sebutan kami untuknya’ bernyanyi dengan suara cemprengnya itu dengan bibir yang  menempel di mikropon. Ihhh, jorok deh. Yup, lagu Baby - Justin Bieber yang dia nyanyikan, itu lagu yang sedang hits saat ini. Bahasa inggrisnya belepotan. Dan suaranya juga pas-pas’an. Upss, bukannya ngejek nih..hehehe. Tapi, sekarang keadaan mulai berubah. Hening melanda ruangan kedap suara itu.
Saat Meyi memutar lagu ‘Sheila On 7 – kisah Klasik’. Mataku kembali berkaca-kaca. Bagaimana tidak, itu adalah lagu sangat menggambarkan keadaan kami saat ini.
Sepenggal lirik dinyayikan Meyi dengan suara serak dan ala tikus kejepitnya itu.
“Sampai jumpa kawanku…semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.” Kerdipan mata sipit Meyi sudah membuat air mata mengalir ke pipinya.
Semua mata yang berkaca tertuju pada si Jepang berkaca mata itu. Aku rasa Aku mengingkari perkataanku tadi. Air mataku pecah ketika melihat tingkah sok tegar Vani.
“Wah..wah, kalian kenapa? Astaga cengeng banget kali geh. Gue ini kan cuma mau pindah rumah bukan ninggalin dunia lho. Senyum dong, biar cantik kaya gue hehe.” Samber Vani sok menghibur. Penyakit narsisnya kumat. Direbutnya  kembali mikropon yang digenggam Meyi. Suara cemprengnya terdengar lagi.
Ini tujuan final. Kami akan foto-foto. Yaaa, siap berpose ‘kriik’ di depan kamera. Hasil pose ini lah yang akan jadi kenangan abadi saat Vani tak lagi menghabiskan waktunya bersama kami. Pose-pose aneh yang ditampilkan Vani di depan kamera membuatku tertawa lebar. Apa esok dan seterusnya Aku bisa kuat seperti ini? Mimik wajah Vani hari memang terlihat bahagia. Syukurlah…aku menarik napas panjang.

***
Malam ini malam Minggu. Malam ini Aku meminta pada Tuhan agar hari esok tidaklah ada. Aku tidak siap menyambut esok. Vani akan berangkat dan meninggalkan kami bertiga disini.. Ku kirimkan dia untaian kalimat yang indah melalui pesan singkat. Aku tidak sanggup untuk membaca balasannya itu. Dengan bantal yang lembab dan terisak, Aku tertidur.
Hari Minggu
Pagi ini aku terbangun pagi sekali. Tidurku benar-benar tak nyenyak. Mataku tampak sembab karena tangisku semalam. Meyi dan Atine datang menjemputku. Kami bergegas untuk mengantar Vani ke Bandara.
Selama perjalanan, semua hanya terdiam. Tanpa ada yang tahu kalau mataku mulai berkaca-kaca lagi. Selintas ku lirik Vani diam-diam, kulihat matanya juga sembab. Sepertinya semalam tadi Ia juga habis menangis.
Tibalah di Bandara Radin Inten II
Kerumunan orang memadati tempat itu. Ternyata jam penerbangan Sriwijaya Air menuju Bandara Soekarno-Hatta ditunda 15 menit.
“Udah ah, nggak usah sedih yaaa, gue nggak mau ngelihat kalian sedih waktu gue berangkat nanti.” Harap Vani menenangkan.
15 menit kemudian…
Saat inilah yang ku harap agar mimpiku segera berakhir! Jam keberangkatan Vani sudah tiba. Ia mulai bergegas membawa tasnya. Aku menangis tanpa henti. Segera ku peluk tubuh kurus itu. Dadaku terasa sangat sesak. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi hal ini.
“Gue pergi dulu yaa. Percaya deh kalau suatu saat kita akan sama-sama lagi. Gue akan kangen kalian.” Ujar Vani lirih dengan mata berkaca-kaca. Yang saat ini Ia memang tak menangis sama sekali. Dia sok tegar. Semua hanya bisa terisak.
“Gue sayang kalian. Jangan sedih gini dong. Jangan nakal ya. Nih gue nyayiin lagunya Pasto, Aku hanya pergi tuk sementara, bukan tuk meningalkanmu selamanya. Aku pasti kan kembali pada dirimu. Tapi kau jangan nakal. Aku pasti kembali. Maaf kalau suara gue jelek, tapi gue udah latihan lho dari semalem tadi” pamit Vani pada kami dengan sepenggal lagu yang Ia nyanyikan.
Kali ini suaranya terdengar lebih indah dari biasanya, Aku semakin terharu. Aku tentu akan merindukan tingkah aneh dan suara cempreng yang khas itu.
Dari kejauhan Vani menoleh dan melambaikan tangan. Kini Sriwijaya Air itu sudah tak terlihat lagi, tertutupi awan. Yang tertinggal hanyalah rintihan tangis di tengah kerumunan itu dan rekaman-rekaman indah masa lalu yang terputar dalam ingatanku. Sampai jumpa Vani dan hati-hati ya :’)

SELESAI
 

1 komentar:

Obet mengatakan...

D tunggu klanjutan postingan cerpennya lagi #penggemarpertamamu

Posting Komentar